Sejarah Pemilu: Maklumat Hatta Nomor X Tahun 1945

bung-hatta

Wakil Presiden Hatta (Sumber Foto: tumblr.com)

Maklumat Nomor X tertanggal 3 November 1945 yang dikeluarkan oleh Wakil Presiden RI Muhammad Hatta, mendorong pembentukan partai-partai politik sebagai bagian dari demokrasi, untuk persiapan rencana penyelenggaraan pemilu 1946. Maklumat ini dapat disebut sebagai tonggak awal demokrasi Indonesia.

Maklumat yang dikeluarkan oleh Wapres Hatta pada tanggal 3 November 1945 ini memiliki ‘kesamaan nomor’ dengan Maklumat yang sebelumnya telah dikeluarkan pada tanggal 16 Oktober 1945, yakni sama-sama bernomor ‘X’. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Latar belakang sebab kejadiannya, ketika maklumat tersebut dibuat ternyata daftar urutan maklumat Wakil Presiden saat itu tidak dibawa oleh Sekretaris Negara mr. (meester in de rechten) Gafar, sehingga nomor urut maklumat tersebut untuk sementara tidak diisi dan hanya ditulis Maklumat Wakil Presiden No. X (maksudnya X tanda silang, alias kosong, belum ada nomor resmi) untuk kemudian kelak diganti dengan nomor urut yang sebenarnya. Tetapi belakangan tanda X tersebut tetap tidak diganti oleh sekretaris negara, selanjutnya maklumat tersebut latah disebut juga Maklumat No. X (dibaca ‘sepuluh’).

Dengan maklumat ini, pemerintah berharap supaya partai-partai politik telah dapat terbentuk sebelum penyelenggaraan pemilu anggota badan-badan perwakilan rakyat pada Januari 1946. Maklumat ini juga melegitimasi partai-partai politik yang telah terbentuk sebelumnya sejak zaman Belanda dan Jepang serta mendorong terus lahirnya partai-partai politik baru.

Namun kemudian proses pemantapan demokrasi Indonesia yang baru lahir melalui rencana penyelenggaraan Pemilu 1946 itu tidak bisa diwujudkan, sebab konsentrasi bangsa Indonesia terfokus pada perjuangan mempertahankan kemerdekaan akibat kedatangan pasukan militer Sekutu. Pemilu bukan lagi prioritas.

Belanda berdasarkan Civil Affairs Agreement (23 Agustus 1945) membonceng pasukan Inggris dan mendarat di Sabang, Aceh. Selanjutnya pasukan Inggris selaku wakil Sekutu tiba di Jakarta pada 15 September 1945. Kehadiran tentara Sekutu ini, diboncengi Netherland Indies Civil Administration (NICA), yang dipimpin oleh Dr. Hubertus Johannes van Mook.

Pertempuran melawan Sekutu dan NICA pun meletus di mana-mana, antara lain Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, Pertempuran Ambarawa di daerah Ambarawa, Semarang dan sekitarnya, Perjuangan Gerilya Jenderal Soedirman meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur, Bandung Lautan Api di daerah Bandung dan sekitarnya, Pertempuran Medan di daerah Medan dan sekitarnya, Pertempuran Margarana di Bali, Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang, Pertempuran Lima Hari di Semarang.

Karena situasi keamanan ibukota Jakarta (Batavia saat itu) makin memburuk, maka pada tanggal 4 Januari 1946, Soekarno dan Hatta dengan menggunakan kereta api, pindah ke Yogyakarta sekaligus pula memindahkan ibukota. Meninggalkan Sutan Syahrir dan kelompok yang pro-negosiasi dengan Belanda di Jakarta. (Sumber: PPLN Den Haag/kpu/wikipedia).

Source: PPLN Den Haag

Recent Comments